Darul Musthofa
Wirosari, Purwodadi, Grobogan
Cari Blog Ini
Rabu, 30 Juni 2010
Albani Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi
Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.
Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.
Siapakah Nashirudin al- Albani?
Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.
Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).
Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.
Penyelewengan Albani
Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’
1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya
berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.
2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan
orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .
3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al
Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana
ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,
4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam
kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.
5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang
Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy”
alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang
berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.
6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi
sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan
berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.
8 )Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia
tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,
9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan
Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.
10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana
disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.
Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:
1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu
wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;
2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit
Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);
3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari
yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd
‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”;
“Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;
4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang
menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;
5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-
Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;
6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala
Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa
mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan
sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);
7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar
al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;
8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila
Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan
al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila
shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-
kitab sunan kepada shohih dan dho`if);
9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis
“Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani”
(Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”);
“Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih”
(Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya);
“Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas
ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;
10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala
dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.
Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.
Rabu, 23 Juni 2010
KALAM HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL-HABSYI
Mon, Dec 15, 2008
Alawiyyin, Manaqib, Tokoh Islam
Pada malam Kamis, 22 Rabiul Awal 1321 H, setelah Salat Maghrib, Habib Ali ra memanggil puteri beliau, Khodijah. Tak berapa lama Khodijah datang dan duduk di hadapan ayahnya. Kemudian, sambil berbaring, Habib Ali bercerita kepada Khodijah:
Wahai Khodijah, suatu hari ayahku mengirim sepucuk surat kepadaku dari Mekah, di dalamnya beliau menulis: Pergilah ke Mekah, kau tak kuizinkan tinggal di Hadhramaut.
Aku segera memberitahu ibuku.
“Kita tidak bisa menentang kehendak ayahmu,” kata ibuku.
Sebenarnya ibuku tidak sanggup berpisah denganku, aku pun merasa berat untuk berpisah dengannya. Jika teringat perjalanan yang harus kulakukan ini, kami menangis.
Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan waktu keberangkatanku semakin dekat. Pada saat keberangkatan, ibuku berpesan kepada Ahmad Ali Makarim.
“Tolong perhatikanlah Ali, ia belum pernah melakukan perjalanan jauh.”
“Marhabâ,” jawabnya.
Kami kemudian berangkat meninggalkan Seiwun menuju Mekah. Di tengah perjalanan kami singgah di Syihr. Tidak seorang pun yang mengenal ayahmu. Setiap hari, aku makan siang dan malam hanya berlaukkan sepotong ikan yang kubeli dengan uang satu umsut. Dari Syihr, aku pergi ke Jeddah kemudian ke Mekah, ke tempat ayahku. Beliau sangat senang melihat kedatanganku.
“Kau tak boleh kembali ke Hadhramaut selamanya,” kata ayahku.
Ayah tidak mengizinkan aku ke ribath (pesantren). Aku juga tidak diizinkan untuk bertemu dengan siapa pun yang berasal dari Hadhramaut. Jika aku mendapat surat dari ibuku, ayah selalu merobeknya. Dua setengah tahun aku tinggal bersama ayahku, selama itu pula aku selalu teringat kepada ibuku. Rasanya aku ingin lari dari rumah ayahku.
Ayahku memperoleh berbagai surat dari Hadhramaut: dari Abdullah bin Segaf Maulakhela, Ja’far bin Muhsin dan Ahmad bin Abdullah bin Husin bin Tohir yang bermaksud hendak meminang adikku Aminah. Setiap kali surat itu datang beliau membakarnya.
Suatu hari ayahku memanggil Alwi Assegaf.
“Aku nikahkan engkau dengan puteriku Aminah. Rayakanlah pernikahanmu di Hadhramaut, kemudian bawalah isterimu kemari.”
“Baik…, tapi carikan aku seseorang yang dapat menemaniku. Biarkan Ali pergi bersamaku,” kata Alwi Assegaf.
Aku sesungguhnya tidak memiliki harapan lagi untuk kembali ke Hadhramaut sampai suatu hari ayah memanggilku.
“Wahai Ali, pergilah ke Hadhramaut bersama Alwi Assegaf. Rayakanlah perkawinannya dengan Aminah, kemudian biarkan ia membawa istrinya ke Mekah.”
“Basysyarokallô hu bil khoir, Semoga Allah memberi ayah kebaikan,” jawabku.
Beliau lalu memberiku 20 Qursy dan Alwi Assegaf 50 Qursy. Setelah itu beliau memerintahkan kami untuk berangkat.
Kami segera meninggalkan kota Mekah. Setelah beberapa hari sampailah kami di Syuhuh. Ibuku tidak tahu tentang rencana kedatanganku ini, tapi Aminah bermimpi dan bercerita kepada ibuku, ‘Wahai Ibu, aku bermimpi bertemu kakakku Ali. Aku melihat seorang Badui mendatangiku. Ketika kutanya, ‘Siapakah kau?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah utusan Habib Ali. Beliau sekarang sudah sampai di Syuhuh, dan akan segera sampai kemari.’
Aminah mendapat mimpi yang benar. Belum selesai ia bercerita, seorang Badui tiba-tiba mengetuk pintu.
“Siapa?” tanya adikku.
“Aku adalah utusan Habib Ali. Beliau sekarang sudah sampai di Syuhuh, dan nanti malam akan tiba di tempat ini.”
Mendengar berita ini, ibuku sangat gembira. Ketika aku masuk kota Seiwun, semua penduduk keluar menyambut kedatanganku. Aku segera menemui ibuku, beliau sangat gembira. Setelah masyarakat kembali ke rumah masing-masing ibuku bertanya, “Apa yang kau bawa?”
“Aku tidak membawa apa-apa selain uang 20 Qursy,” jawabku.
“Jangan khawatir, lihat, rumah ini penuh dengan gandum, beras dan korma,” kata ibuku.
“Ayah mengirim Alwi Assegaf bersamaku. Beliau telah menikahkannya dengan Aminah. Beliau berpesan agar setelah pesta perkawinan, Alwi diizinkan memboyong Aminah ke Mekah.”
“Akulah yang membesarkan Aminah. Dan aku sesungguhnya tidak ingin berpisah dengannya, tapi aku tidak mau menentang kehendak ayahmu,” ucap ibuku.
Aku kemudian merayakan perkawinan Alwi Assegaf dengan Aminah. Setelah perkawinan, Alwi tinggal di Seiwun selama dua atau tiga bulan, lalu ia kembali ke Mekah bersama Aminah.
Dua bulan setelah kepergian Aminah, ibu berkata kepadaku, “Aku ingin kau segera menikah.”
“Wahai ibu, aku tidak memiliki persiapan untuk menikah,” jawabku.
“Jangan khawatir, segalanya akan menjadi mudah.”
Ibuku kemudian menyarankan agar aku menikah dengan ibu Abdullah. Aku pun kemudian segera melamarnya. Semula ayahnya menolak lamaranku, masyarakat pun kemudian mencela calon mertuaku, “Bagaimana kau ini…, kau telah menolak lamaran seorang habib yang alim dan terhormat. Dia pernah belajar di Mekah.”
Akhirnya calon mertuaku berubah pikiran.
“Maafkan aku! Lupakanlah apa yang telah kulakukan kepadamu. Sekarang selamat datang, aku terima lamaranmu.”
Aku dan ibuku kemudian segera berangkat ke Qosam. Di sana aku menikah dengan ibu Abdullah. Pernikahan kami berlangsung sangat sederhana. Penduduk Qosam adalah orang-orang yang cinta kebajikan. Setiap tamu undangan memberi kami dua mud gandum. Kami memotong seekor kambing untuk jamuan makan di malam pernikahan. Namun, pada saat itu Allah mentakdirkan seorang warga Inat meninggal dunia, sehingga sebagian besar undangan melayat ke Inat. Kelebihan makanan: dua piring Haris, kami berikan kepada seorang terhormat di Qosam. Keesokan harinya, kami tidak lagi memiliki sisa makanan untuk makan siang. Ketika kami sedang duduk membuat kopi, tiba-tiba Ba Hannan datang membawa makanan di mangkok. “Ini Haris untuk makan siang kalian,” katanya. Kami pun lalu memakannya.
Setelah tinggal di Qosam selama empat bulan, aku kemudian kembali ke Seiwun. Tak lama setelah itu ibuku berkata, “Aku ingin kau menunaikan ibadah haji dengan cara menghajikan seseorang.” Aku lalu menghajikan Ahmad Sabaya atas biaya keluarganya.
Aku berkunjung ke rumah ayahku sebelum menunaikan ibadah haji. Dan setelah urusan haji selesai, aku meminta izin dari ayahku untuk kembali ke Hadhramaut.
Menjelang bulan haji tahun berikutnya, ibuku berkata, “Tunaikanlah ibadah haji sekali lagi tahun ini.” Aku kemudian mengabarkan keinginan ibuku ini kepada temanku Hasan bin Ahmad Alaydrus. Ia memberiku 80 Qursy.
“Semua pengeluaran, transportasi dan urusanmu dalam perjalanan kutanggung” kata Hasan bin Ahmad Alaydrus.
Aku kemudian berangkat bersama Hasan bin Ahmad dan Said bin Khalifah.
Di tengah perjalanan kami singgah di Syihr. Di sana kami berjumpa dengan Habib Abubakar bin Abdullah Alatas. Ketika pertama kali bertemu Habib Abubakar jantungku hampir saja copot, kulihat beliau diliputi cahaya.
“Lelaki ini malaikat atau manusia!” kataku dalam hati.
Setiap kali ada yang terlintas di hatiku, Habib Abubakar mengetahui kemudian menjelaskannya. Aku sangat senang dan gemas dengan Habib Abubakar. Rasanya ingin aku menelan beliau. Aku tak ingat pada keluargaku atau yang lain. Malam hari aku tidak dapat tidur, khawatir jika suatu saat nanti aku harus berpisah dengannya. Kemudian aku bertanya di mana Habib Abubakar akan menunaikan salat Subuh. Mereka mengatakan bahwa beliau akan salat Subuh di Mesjid Amr. Sebelum fajar, kami telah berada di Mesjid Amr. Tak lama kemudian Habib Abubakar datang, dan kami pun lalu salat Subuh berjamaah dengan beliau.
Tiga belas hari kami tinggal di Syihr bersama beliau. Selama itu aku membacakan kepadanya kitab Ar-Rasyafât dan beliau menerangkan dan melimpahkan ilmunya kepada kami. Beliau sering melihat aku, tapi setiap kali aku memandangnya, beliau segera memalingkan pandangannya dariku. Aku menjadi semakin suka dan senang kepada beliau. Habib Abubakar juga memberikan perhatian kepada Hasan bin Ahmad dan yang lain. Aku berkata kepada Hasan bin Ahmad, “Katakanlah kepada Habib Abubakar bahwa aku adalah anak Muhammad bin Husein.” Beberapa yang hadir juga berkata kepada Habib Abubakar, “Dia adalah anak Muhammad bin Husein.” “‘Ajîb (Oh, ya)?” jawab beliau. Setiap kali para hadirin mengenalkan aku, Habib Abubakar berkata: ‘Ajîb… (Oh, Ya…?!). Namun beliau akhirnya berkata kepadaku, “Wahai anakku, camkanlah bahwa fath-mu terletak pada kitab Ar-Rasyafât.” Aku pun berkata kepada beliau, “Katanya fath-ku di tanganmu.”
Aku akhirnya dapat mengkhatamkan kitab Ar-Rasyafât di bawah bimbingan beliau.
Setelah itu Habib Abubakar pergi ke Mukalla dan kami pun mengikuti beliau. Di Mukalla, beliau tinggal di rumah Abdurrahman Bahwal. Hasan bin Ahmad dan rombongannya meminta ijazah. Beliau memberi kami semua ijazah. Kemudian beliau menganjurkan kami untuk menziarahi Nabi saw. Beliau berkata, “Kalian akan memperoleh sesuatu dari Nabi saw.”
Hasan bin Ahmad beserta rombongannya kemudian melanjutkan perjalanan, begitu pula aku. Sesungguhnya, aku tidak ingin sedetik pun berpisah dari Habib Abubakar.
Kami akhirnya sampai di Jeddah. Dari Jeddah kami ke Mekah. Di Mekah, aku tinggal di rumah ayahku. Setelah beberapa hari di Mekah, rombongan kami pun berangkat ke Madinah. Di tengah perjalanan, kami singgah di Jeddah. Di kota ini kami bertemu dengan sekelompok Badui yang saleh. Ketika salat, mereka membaca surat-surat awal juz 30 hingga surat Ad-Dhuha. Suara ratib mereka terdengar sepanjang malam.
Kami dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah. Suara kokok ayam dan penduduk Madinah menyambut kedatangan kami. Dari jauh aku melihat kubah hijau tempat Nabi saw dimakamkan. Pemandu ziarah (muzawwir) telah siap menunggu kami. Ia kemudian memandu kami ziarah ke kubur Al-Habib Muhammad saw dan menuntun kami semua untuk mengucapkan salam. Aku kemudian mengucapkan salam:
Salam sejahtera bagimu, duhai Rasulullah
Salam sejahtera bagimu, duhai kekasih Allah
Aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau
telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah
Pemandu ziarah akhirnya ikut berziarah bersama kami. Karena cahaya dan hudhûr-nya ziarah hampir saja jantungku berhenti berdetak. Pemandu ziarah itu ikut bersamaku ke bâbul malâ-ikah (pintu malaikat). Di sana aku menghadirkan Jibril dan Mikail. Tidak ada seorang pun yang mampu (yaqdir) berada di bâbul malâ-ikah di tengah malam. Kemudian aku mengucapkan salam kepada Sayidina Abubakar, kemudian kepada Sayidina Umar bin Khottôb. Setelah itu aku menziarahi Hababah Fatimah. Ketika duduk di depan makamnya, aku merasa sangat bahagia:
“Ya Hababah, kami adalah anakmu.”
Setelah itu aku pergi.
Malam hari itu aku sama sekali tidak tidur. Setiap hari aku mengkhatamkan Ad-Dalâil sebanyak tujuh kali. Pada malam hari, bersama Muhammad Al-Yamani, aku mengkhatamkan Ad-Dalâil sebanyak tujuh kali di Haram. Setelah itu kami membaca maulid atau Hamaziyah. Pada hari kesepuluh di siang hari, Hasan bin Ahmad Alaydrus tiba-tiba menemuiku.
“Nabi saw memerintahkan aku untuk menemuimu.”
“Aku tidak pantas menerima kemuliaan ini.”
“Kau pantas.”
(Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus kemudian bercerita):
Suatu hari, aku keluar menuju Al-Haram seorang diri. Dalam hati aku berkata, “Aku ingin menghadap Nabi saw, semoga dari beliau muncul karomah untukku.” Sesampainya di sana aku duduk di hadapan jendela kubur. Tiba-tiba dari kubur Nabi saw, muncul cahaya menjulang ke langit. Cahaya itu kemudian menjelma seorang manusia, ia mengucapkan salam kepadaku,
“Assalâmu ‘alaika, ya Hasan.”
“Wa ‘alaikas salâm,” jawabku, “Sesungguhnya engkau ini siapa?”
“Aku adalah kekasihmu Muhammad saw,” kata beliau dengan menunjukkan rasa sukanya kepadaku, “Wahai Hasan.”
“Labbaik.”
“Apakah kau ingin ziarahmu ini diterima?”
“Ya.”
“Apakah kau ingin semua hajatmu dipenuhi?”
“Ya.”
“Jika kau ingin ziarahmu diterima dan semua hajatmu dipenuhi, temuilah Ali bin Muhammad Al-Habsyi, mintalah ijazah darinya, dan ikatlah tali persaudaraan dengannya.”
“Marhabâ,” jawabku.
“Aku tidak pantas, tapi tidak mungkin aku menolak perintah kekasihku saw,” kataku kepada Hasan.
Aku kemudian memberinya ijazah dan mengikat tali persaudaraan dengannya. Hasan bin Ahmad lalu pergi meninggalkanku. Tak lama kemudian, Syeikh ‘Athiyyah datang menemuiku dan berkata, “Tadi aku bertemu dengan kekasihku saw dan beliau berkata kepadaku, ‘Temuilah Ali bin Muhammad Al-Habsyi, katakan kepadanya: Jika Tuhanmu telah memenuhi semua keinginanmu, maka doakanlah aku.”
“Insyâ Allôh, jika Tuhanku memenuhi semua keinginanku, aku akan mendoakanmu,” jawabku.
Aku lalu bangkit menuju makam Nabi saw. Dengan erat kupegang jendela kubur yang terbuat dari besi itu, “Ya Habib Muhammad, engkau telah memberi semuanya, padahal aku adalah anakmu…, keturunanmu. .. Sejelek-jeleknya, maksimal aku adalah seorang yang berdosa, bagaimana mungkin engkau tidak memperhatikan aku?” Tiba-tiba jendela kubur bergetar dan terbuka.
“Ya Habib, aku bertobat, aku masih ingin bertemu dengan ibuku,” kataku sambil bergegas keluar.
Pada kesempatan lain, ketika aku menghadap Nabi saw seorang diri, aku melihat seorang laki-laki dari Maroko sedang menghadap ke jendela dan memanggil Al-Habib saw dan mengucapkan beberapa bait syair. Tanpa kusadari Hasyim bin Syeikh Al-Habsyi telah berdiri memegang jendela dengan erat
“Kau masuk dari mana? Semua pintu telah terkunci!” tanyaku kepadanya.
Karena Hasyim adalah temanku, maka ia berterus terang kepadaku, “Jika mereka telah menutup semua pintu, aku masuk lewat jalan ghaib.” Ia lalu berulang kali membaca ayat berikut:
“Wahai Al-Azîz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan (takaran) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, karena sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf, 12:88)
Tiba-tiba Hasyim tersungkur dan Nabi saw mengulurkan tangannya kepada Hasyim. Hasyim kemudian menciuminya. Aku pun segera bersujud dan masih bisa menyentuh tangan Rasulullah saw.
Tiga hari kemudian aku berziarah ke kubur Sayidina Hamzah bersama Syeikh Muhammad Al-‘Azb. Selepas ziarah Syeikh Muhammad Al-‘Azb bertemu Sayidina Hamzah
“Aku bertemu Sayidina Hamzah dan beliau berkata, ‘Aku telah meminta izin kepada Nabi saw untuk menjamu kalian,’ katanya.
“Sungguh kesempatan yang sangat baik, siapa yang butuh sesuatu, maka utarakanlah.
Perhatikanlah, kita ini adalah orang-orang yang membutuhkan,” kataku.
Suatu hari aku duduk bersama Hasan bin Ahmad.
“Bagaimana jika engkau bukakan diwan Habib Abdullah Al-Haddad secara acak?” katanya. Aku lalu membukanya secara acak dan yang terbuka adalah bait syair berikut:
Dan Ibrahim menghancurkan patung-patung kaumnya dan menyisakan patung yang terbesar agar mereka malu
“Tafsirkanlah bait ini untukku dan tulislah di bawahnya,” kata Hasan.
“Habib Abdullah Al-Haddad menunjukkan bahwa keluarga Alaydrus memiliki kegemaran memimpin. Allah telah membersihkanmu dari kegemaran itu. Engkau adalah seorang Muhammadiy (berperilaku dengan akhlak Rasulullah SAW)” jawabku.
“Coba bukakan sekali lagi, Nabi saw mencintai kita atau tidak?” pintanya.
Dan ternyata yang terbuka bait berikut:
Duhai kekasih yang cantik
Tahukah engkau
aku menderita dan merana
“Coba bukakan sekali lagi, kita akan berkunjung ke Madinah lagi atau tidak?”
Ternyata bait syair yang tertulis adalah:
Semoga yang dirundung rindu ini
dapat mengunjungimu kembali
‘tuk mencium tanah dan atsarnya
“Sekarang aku akan membukanya untuk diriku sendiri,” kataku. Dan ternyata yang terbuka adalah bait berikut:
Arak keyakinan minuman kehormatan bagi kami
Minum dan mabuklah dengan anggur terbaik ini
Itulah minuman para pemimpin kami
Dan sesatlah jalan orang yang suka menyalahi
“Aku akan membuka sekali lagi, apakah kita dapat kembali ke Madinah lagi?” Dan ternyata yang terbuka bait berikut:
Semoga yang dirundung rindu ini
dapat mengunjungimu kembali
‘tuk mencium tanah dan atsarnya
“Aku ingin sesuatu yang benar dan nyata. Yang kita lakukan selama ini hanyalah mencari alamat-alamat baik saja,” kata Hasan, kemudian ia pergi. Sepeninggalnya aku tertidur sejenak, tiba-tiba tampak seorang lelaki berdiri di depan pintu. Cahayanya menjulang ke langit.
“Siapakah engkau?” tanyaku.
“Aku adalah kekasihmu Muhammad saw. Bukankah engkau belum lama berselang membuka diwan Abdullah Al-Haddad?” tanya beliau.
“Benar,” jawabku.
“Yang kau baca benar semua,” kata Nabi saw.
Senin, 21 Juni 2010
debat ilmiah
Madzhab Vs Anti Madzhab
Mereka , para anti mazhab, menuduh bahwa golongan pengikut mazhab adalah fanatik kerana tidak mau beranjak dari perkara hak yang berdasarkan ribuan dalil. Akan tetapi , mereka sendiri sebenarnya terkurung dalam sangkar kefanatikan yang justru membuat mereka seperti kehilangan akal sehatnya.
Seorang pemuda bersama kawan-kawannya datang menghadap kami dan berbicara tentang suatu masalah.
mazhab: Lalu kami bertanya“ bagaimana cara anda memahami hukum Allah?. Apakah anda langsung memgambil dari Al-kitab dan As-sunnah atau mengambilnya dari para Imam mujtahid?.
anti mazhab: Dia menjawab “ Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya , kemudian saya mengambil keterangan yang paling mendekati dalil Al-kitab dan as Sunnah”.
mazhab: Lalu kami bertanya” seandainya anda mempunyai uang
anti mazhab: Sambil berpikir , ia menjawab “ Maksud pertanyaan tuan ailah harta dagangan atu wajib dizakati?”.
mazhab: Kami pun lalu brerkata “ Kami ini bertanya dan harap Anda menjawab menurut cara (pengertian ) Anda sendiri. Perpustakaan berada dihadapan Anda dan disitu terdapat kitab-kitab para imam mujtahid”.
anti mazhab: Setelah berpikir sebentar, ia berkata “ Ah , tuan Ini adalah masalah agama dan bukan soal mudah yang dapat dijawab seketika untuk itu perlu mempelajarinya dengan saksama dan memerlukan waktu. Kami datang kemari ingin membahas masalah lain”.
mazhab: Kemudian kami pun pindah pada masalah lain dan berkata” baiklah , kami ingin bertanya “ apakah setiap orang Islam wajib meneliti dalil-dalil yang dikemukakan oleh para Imam mujtahid kemudian mengambil mana yang paling sesuai dengan al Quran karim dan as Sunnah?.
anti mazhab :Ia menjawab “ Ya , benar”.
mazhab: Lalu kami bertanya lagi” kalau demikian ,berarti semua orang Islam harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki para imam mazhab. Bahkan , mereka harus mempunya memiliki kemampuan yang lebih sempurna kerana orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam menurut dasar Al Kitab dan as Sunnah sudah tentu lebih pandai dari semua imam itu”.
anti mazhab : Ia menjawab” Sesungguhnya manusia terbagi menjadi tiga macam, yaitu mujtahid, muqallid dan muttabi;. Orang yang mampu membandingkan mazhab , kemudian menyaring mana yang lebih dekat kepada Al Kitab dan As Sunnah , adalah muttabi’ yaitu pertengahan antara muqallid dengan mujtahid”.
mazhab: Kami bertanya lagi” Apakah sebenarnya kewajiban muqallid”.
anti mazhab :Dia menjawab “ Taqlid kepada mujtahid yang cocok dengannya”.
mazhab: Kami bertanya “ Apakah berdosa seandainya taqlid secara terus-menerus kepada seorang imam dan tidak berpindah kepada imam yang lain?.”
anti mazhab: Dia menjawab “ Memang , hal itu hukumnya haram”.
mazhab : Kami bertanya “ Apakah dalilnya kalau hal itu memang haram?”.
anti mazhab: Dia berkata “ kerana ia menetapi sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah”.
mazhab: Kami bertanya “ Dengan qiraat apakah Anda membaca Al Quran?”.
anti mazhab: Dia menjawab” Dengan Qiraat Hafas”.
mazhab: Kami bertanya lagi” Apakah Anda selalu membaca Al Quran dengan Qiraat hafas , atau Anda juga membaca Al Quran setiap harinya dengan qiraat yang bermacam-macam?.
anti mazhab : Ia menjawab” Tidak, saya selalu membaca Al Quran dengan qiraat Hafas”.
mazhab: Lalu kami bertanya lagi “ Mengapa Anda menetapi qiraat hafas , padahal Allah Azza wajalla tidak mewajibkan anda kecuali membaca Al Quran menurut riwayat yang diterima dari Nabi s.a.w. secara mutawatir?”.
anti mazhab :Ia kemudian menjawab” kerana saya tidak sempurna dalam mempelajari qiraat yang lain dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al quran selain dengan qiraat Hafas”.
mazhab: Kami berkata kepadanya “ Demikian pula halnya bagi orang yang mempelajari fikih menurut mazhab As syafie . dia tidak cukup sempurna dalam mempelajari mazhab lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama selain menurut Imam as Syafie. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari semua qiraat dan anda harus membaca semuanya. Kalau anda beralasan tidak mampu , demikian pula halnya dengan si muqallid tadi.
Ringkasnya kami ingin menayakan pada anda, Apakah alasan yang mewajibkan muqallid harus berpindah-pindah dari mazhab satu ke mazhab lain, padalah Allah Azzawa jalla tidak mewajibkan seseorang untuk berpegang terus pada suatu mazhab tertentu , juga tidak mewajibkan seseorang berpindah-pindah terus dari satu mazhab ke mazhab lain?”.
anti mazhab: Dia menjawab “ Sesungguhnya yang haram ialah kalau seseorang mempunyai I’tikad ( keyakinan) bahwa allah memerintahkannya untuk terus menerus menetapi mazhab tertentu”.
mazhab: KAMI BERKATA” INI MASALAH LAIN DAN APA YANG ANDA KATAKAN ITU MEMANG BENAR JUGA , TIDAK ADA PERBEDAAN PENDAPAT.AKAN TETAPI , MASALAHNYA SEKARANG, IALAH BAGAIMANA KALAU TERUS-MENERUS MENETAPI IMAM TERTENTU DAN IA TAHU BAHAWA ALLAH AZZA WAJALLA TIDAK MEWAJIBKAN KEPADANYA BEGITU. APAKAH DIA TELAH BERDUSTA?.
anti mazhab: Dia menjawab” Tidak , jika demikian”
mazhab: Kami berkata lagi “ Tetapi , buku Syekh Khajandi yang anda pelajari menyebutkan hal yang berbeda dengan apa yang anda ucapkan . Ia secara tegas mengharamkan hal yang tersebut , bahkan bahagian –bahagian yang tertentu dari buku itu menyatakan kafir kepada orang yang menetapi terus –menerus seorang imam tertentu dan tidak mau berpindah kepada yang lain’.
anti mazhab: Dia selanjutnya bertanya “ Mana ……?”.
Selanjutnya , ia berpikir tentang ibarat buku tulisan syekh Khajandi yang berbunyi “ bahkan siapa yang menetapi Seorang imam tertentu dalam setap masalah , bererti ia fanatik yang salah dan taqlid buta, serta termasuk golongan yang memecah belah agama , serta mereka pun berkelompok-kelompok”.
Setelah berpikir sejenak , ia kemudian menyatakan bahawa yang dimaksud menetapi disini ialah meyakinkan wajibnya hal tersebut menurut syariat. Jadi dalam ibarat tersebut terdapat kekurangan”.
mazhab: Kemudian kami bertanya lagi “ apakah bukti kalau penulis buku tersebut memaksudkan demikian”. Mengapa anda tidak mengatakan bahwa penulis buku itu keliru”.
Atas pertanyaan ini, dia tetap berpendirian bahwa pernyataan pada buku Halil Muslimun Bittibaa’I mazhabin mu’ayyanin Minal Mazaahibil Arba’ah dapat dibenarkan dan penulisnya pun tetap tidak salah kerana dalam pernyataan tersebut memang ada kekurangan.
mazhab: Lalu kami berkata lagi “ setiap orang Islam mengetahui bahawa mengikuti seorang imam tertentu dari keempat imam mazhab bukan termasuk kewajiban syariat, tetapi atas dasar pilihan (kesadaran ) orang itu sendiri”.
anti mazhab : Ia menyatakan “ Bagaimana bisa demikian ?. saya mendengar dari banyak orang dan juga sebahagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syariat untuk MENETAPI mazhab tertentu dan tidak boleh berpindah-pindah pada yang lain”.
mazhab : Kami lalu menjawab “ coba anda sebutkan kepada kami seorang saja dari orang awam atau ahli ilmu yang menyatakan demikian”.
anti mazhab : Ia kemudian berdiam sejenak dan merasa heran dengan ucapan kami yang benar, bahwa sesungguhnya apa yang ia gambarkan adalah sebahagian besar manusia mengharamkan berpindah-pindah mazhab .
mazhab: Kami berkata padanya “ Anda tidak akan menemukan orang yang bertanggapan keliru seperti itu. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa terakhir dinasti “utsmaniyah , mereka keberatan kalau ada seorang yang bermazhab hanafi berpindah ke mazhab lain . hal ini kalau memang benar , termasuk fanatik buta yang terkutuk”.
mazhab: Setelah itu , kami bertanya lagi kepadanya “ dari mana anda mengetahui perbedaan antara muqallid dan muttabi’”.
anti mazhab: Dia menjawab “ Perbedaannya ialah dari segi bahasa”.
Kami pun mengambil kitab-kitab Lughah agar ia dapat menetapkan perbedaan makna bahasa dari dua kalimat tersebut, tetapi ia tidak menemukan apa-apa.
mazhab: Kemudian kami katakan kepadanya , Sayyidina Abu Bakar ra pernah berkata kepada seorang arab badawi ( pendusunan) yang menentang pajak dan perkataannya ini pernah di akui segenap Para Sahabat :
اذا رضى المهاجرون فانما أنتم تبع.
Artinya “ Apabila para muhajirin telah rela , kamu sekelian harus menyetujui (mengikuti)’.
Abu Bakar mengatakan “ taba’un’ (mengikuti ) yang mempunyai arti menyetujui (muwafaqah).
anti mazhab: Kemudian ia berkata lagi “ kalau begitu , perbedaan makna kedua kata tersebut adalah dari istilah dan bukan hak saya untuk membuat suatu istilah”.
mazhab: Kami menjawab “Boleh-boleh saja Anda menjawab istilah, tetapi istilah yang anda buat tetap tidak akan mengubah hakikat sesuatu . Orang yang anda sebut muttabi’ , kalau dia mengetahui dalil dan cara melakukan istinbath darinya , bererti dia adalah mujtahid . Akan tetapi , bila tidak tahu dan tidak mampu melakukan istinbath , bererti dia mujtahid dalam sebahagian masalah dan muqallid dalam masalah lain. Oleh kerana itu, bagaimanapun juga pembahagian tingkatan seseorang hanya ada dua macam , yaitu mujtahid dan muqallid, dan hukumnya sudah cukup jelas dan diketahui”.
anti mazhab: Ia berkata “ sesungguhnya muttabi’ adalah orang yang mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya ,kemudian menguatkan salah satu darinya. Tingkatan ini berbeda dari taqlid”.
mazhab: Kami menyatakan “ KALAU YANG ANDA MAKSUDKAN MEMBEDAKAN PENDAPAT PARA IMAM MUJTAHID IALAH MEMBEDAKAN MANA YANG KUAT DAN MANA YANG LEMAH DARI SEGI DALIL , BERERTI TINGKAT INI LEBIH TINGGI DARIPADA IJTIHAD. APAKAH ANDA MAMPU AKAN BERBUAT DEMIKIAN?.
anti mazhab: Lalu dia menjawab “ Saya akan lakukannya sekuat kemampuan saya”.
mazhab: Kami berkata kepadanya “ kami mengetahui anda telah memberi fatwa bahwa talak tiga yang dijatuhkan dalam satu majelis bererti jatuh satu talak saja. Apakah sebelum menyampaikan fatwa anda telah meneliti pendapat para imam mazhab serta dalil-dalil mereka , kemudian anda memilih salah satu dari pendapat mereka dan anda fatwakan ?.
Ketahuilah bahwa Uwaimir Al Ijlani telah menjatuhkan talak tiga kepada isterinya di hadapan Rasulullah s.a.w .Setelah ia bersumpah L’ian dengan isterinya , ia berkata “ saya akan berbohong kepadanya , Ya Rasulullah, bila saya menahannya, dan saya talak tiga “
bagaimana pengetahuan Anda tentang hadis ini dan kedudukannya dalam masalah ini, serta pengertiannya menurut mazhab sebahagian besar ulama dan menurut mazhab Ibnu Taimiyyah?”.
anti mazhab: Lalu dia menjawab “ saya belum melihat hadis ini”.
mazhab: Kemudian kami bertanya “ Bagaimana Anda bisa memfatwakan suatu masalah yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh keempat imam mazhab , padahal anda belum mengetahui dalil-dalil mereka, serta tingkatan kekuatan dalil tersebut . Kalau begitu anda telah meninggalkan prinsip yang anda anuti , yaitu ittiba’ menurut istilah yang anda katakan sendiri”.
anti mazhab: Pemuda itu menyatakan “ Pada waktu itu saya tidak memiliki kitab yang cukup untuk melihat dalil dari imam-imam mazhab”.
mazhab: “KalAU BEGITU , APAKAH YANG MENDORONG ANDA UNTUK TERGESA-GESA MEMBERIKAN FATWA YANG MENYALAHI PENDAPAT JUMHUR KAUM MUSLIMIN ‘ PADAHAL ANDA BELUM MEMERIKSA DALIL-DALIL MEREKA ?“Kami bertanya kepadanya.
anti mazhab: Pemuda itu menjawab “ apakah yang harus saya perbuat ketika saya ditanya mengenai masalah tersebut, sedangkan kitab yang ada pada saya terbatas sekali?”.
mazhab: Kami katakana kepadanya “ sesungguhnya cukup bagi anda untuk mengatakan “ Saya tidak tahu tentang masalah ini , atau anda menukil saja pendapat mazhab empat kepada si penaya, serta pendapat mereka yang berbeza dengan mezhab empat tanpa harus memberikan fatwa kepadanya dengan salah satu pendapat. Demikianlah , apa yang kami kemukaknn ini sudah cukup untuk anda dan memang sampai disitulah kewajiban anda. Apalagi problem itu tidak langsung menyangkut diri anda SEHINGGA ANDA MEMBERIKAN FATWA DENGAN PENDAPAT YANG MENYALAHI IJMA’ KEEMPAT IMAM TANPA MENGETAHUI DALIL-DALIL YANG DIJADIKAN HUJJAH OLEH MEREKA , KERANA ANDA TELAH MMENGANGGAP CUKUP DENGAN DALIL YANG ADA PADA PIHAK YANG BERTENTANGAN DENGAN MAZHAB EMPAT,
ANDA TELAH BERADA DIPUNCAK KEFANATIKAN SEBAGAIMANA YANG SELALU ANDA TUDUHKAN KEPADA KITA”.
anti mazhab: Kemudian dia mengatakan “ Saya telah menelaah pendapat keempat imam dalam kitab Subulus Salam karya as Syaukani dan Fiqhus Sunnah karya As Sayyid Sabiq”.
mazhab: Kami menjawab “ Kitab yang anda sebutkan adalah kitab yang memusuhi keempat imam mazhab dalam masalah ini. Apakah anda rela menjatuhkan vonis kepada salah seorang tertuduh hanya mendengar
anti mazhab : Kemudian pemuda itu menyatakan “ Saya kira apa yang telah saya lakukan tidak patut dicela . Saya telah memberikan fatwa kepada orang yang bertanya dan itulah batas kemampuan paham saya”.
mazhab : Selanjutnya , kami mengatakan kepadanya “ Anda telah menyatakan sebagai muttabi’ dan kita semua harus menjadi muttabi’. Dan anda telah menafsirkan bahwa ittiba’ ia lah meneliti semua pendapat mazhab dan mempelajari dalil-dalil yang dikemukakannya. Kemudian mengambil mana yang paling mendekati dalil yang benar. Akan tetapi , apa yang telah anda lakukan ternyata bertolak kebelakang. Anda telah mengetahui bila mazhab empat telah ijma’ bahwa talak yang dijatuhkan tiga sekaligus , bererti jatuh tiga. Anda mengetahui bahwa keempat imam mazhab mempunyai dalil tentang masalah ini, hanya saja anda belum melihatnya. Namun demikian , anda berpaling dari ijma’ mereka dan mengambil pendapat yang sesuai dengan keinginan anda. APAKAH ANDA SEJAK DARI SEMULA TELAH YAKIN BAHWA DALIL-DALIL KEEMPAT IMAM MAZHAB ITU TIDAK DAPAT DITERIMA?.
anti mazhab: Dia menjawab “ Tidak , hanya saja saya tidak melihatnya kerana saya tidak memiliki kitab-kitab tersebut”.
mazhab: Kami bertanya lagi kepadanya “ mengapa anda tidak mau menunggu?. Mengapa anda tergesa-gesa padahal Allah s.w.t tidak memaksakan anda untuk berbuat demikian?. Apakah kerana anda tidak melihat dalil-dalil para ulama jumhur yang dapat dipakai sebagai alasan untuk menguatkan pendapat Ibnu Taimiyyah ?. Apakah fanatik yang anda anggap dusta itu tiada lain ialah apa yang anda telah perbuat?.”
anti mazhab: Ia menyatakan “ Dalam kitab-kitab yang ada pada saya , saya telah melihat beberapa dalil yang cukup memuaskan dan Allah tidak membebani saya lebih dari itu”.
mazhab: Kemudian kami bertanya lagi “ Apabila seorang muslim melihat satu dalil dalam kitab yang ia baca , apakah cukup dengan dalil tersebut ia meninggalkan semua mazhab yang berbeda dengan pahamnya, meskipun ia belum melihat dalil-dalil dari mazhab tersebut?”.
anti mazhab: Jawabnya “ Cukup”.
mazhab: Lalu kami mengatakan “
yang Artinya “ Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat , maka ke mana pun kamu menghadap , disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah maha luas (rahmatnya ) lagi maha mengetahui”.
(Al baqarah 115.)
Pemuda tersebut lalu beranggapan bahwa setiap orang hendak melakukan shalat boleh menghadap ke arah mana saja sebagaimana ditunjukkan oleh zahirnya lafaz ayat Al quran. Kemudian ia mendengar bahwa keempat imam mazhab telah sepakat bahwa ia harus menghadap Kaabah. Ia pun mengetahui bahwa para imam mempunyai dalil untuk masalah ini, hanya saja ia belum melihatnya. Apakah yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut manakala ia akan shalat?. Apakah cukup dengan mengikuti panggilan jiwanya saja kerana ia telah menemukan ayat Al Quran tersebut atau ia harus mengikuti imam-imam yang berbeda dengan fahamnya?.
anti mazhab: Ia menjawab “ cukup dengan mengikuti panggilan hatinya”.
mazhab: “MESKIPUN MENGHADAP KEARAH TIMUR , MISALNYA?. APAKAH SHALATNYA DIANGGAP SAH ?. Demikian kami tanyakan dengan rasa hairan.
anti mazhab: “ Ya , kerana ia wajib mengikuti panggilan hatinya’. Jawabnya .
mazhab: Kemudian kami mengatakan “ Andaikata panggilan jiwa pemuda itu mengilhami dirinya sehingga ia merasa tidak apa-apa berbuat zina dengan isteri tetangganya, memenuhi perutnya dengan khamar dan merampas harta manusia tanpa hak, apakah Allah akan memberikan syafaat kepadanya lantaran pangillan jiwanya?.
anti mazhab: KEMUDIAN IA DIAM SEJENAK, LALU BERKATA “ SEBENARNYA CONTOH-CONTOH YANG TUAN TANYAKAN HANYALAH KHAYALAN BELAKA DAN TIDAK ADA BUKTINYA”.
mazhab: Lalu kami berkata “ Bukan khayalan atau dugaan semata, bahkan sering terjadi hal seperti itu atau lebih aneh lagi. Bagaiman tidak, seorang pemuda yang tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang Islam, Al Kitab dan As Sunnah, kemudian membaca sepotong ayat Al quran yang ia fahami menurut apa adanya. Ia kemudian berpendapat bahwa boleh saja shalat menghadap ke arah mana saja meskipun ia tahu persis bahawa shalat diharuskan menghadap Kiblat (kaabah). Dalam kasus ini, apakah anda tetap berpendirian bahwa shalatnya sah?. Kerana menganggap cukup dengan adanya bisikan hati nurani atau panggilan jiwa s ipemuda tersebut. Disamping itu , menurut anda , bisikan atau panggilan jiwa dan kepuasan mental bias memutuskan segala urusan. Pendirian ini jelas bertentangan dengan prinsip anda , bahawa manusia terbahagi tiga kelompok : mujtahid, muqallid dan muttabi’”.
Setelah kami katakana demikian , ia menyatakan bahwa sebenarnya pemuda tersebut harus membahas dan meneliti . apakah ia tidak membaca hadis atau ayat lainnya?”.
mazhab: Kemudian kami menyatakan “ Ia tidak memiliki cukup bahan untuk membahas sebagaimana halnya anda ketika membahas tentang masalah talak. Ia tak sempat membaca ayat-ayat lain yang berhubungan dengan masalah kiblat selain ayat diatas . Dalam hal ini apakah ia tetap harus mengikuti bisikan hatinya dengan meninggalkan ijma’ para ulama’?.’
anti mazhab : Lalu dia menjawab “ Memang harus demikian , kalau ia tidak mampu membahas dan menganalisis. Baginya cukup berpegang pada hasil pikirannya sendiri dan ia tidak salah”.
mazhab: Kami katakana kepadanya “ Ucapan anda sangat membahayakan dan mengherankan dan kami akan siarkan…”.
anti mazhab: Dia mengatakan “ Silakan tuan menyiarkan pendapat saya dan saya tidak takut”.
mazhab: Kami pun menjawab “ Bagaimana anda akan takut kepada saya padahal anda tidak takut kepada Allah s.w.t. Sesungguhnya dengan ucapan tersebut anda telah membuang firman allah s.w.t :
yang Artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui”. (An Nahl 43)
anti mazhab : Selanjutnya , dia menyatakan “ Tuan , para Imam bukanlah maksum yang terpelihara dari kesalahan. Bagaiman mungkin ia harus meninggalkan yang maksum dan berpegang pada orang yang bukan ma’shum?.”
mazhab: Jawaban kami “ Yang terpelihara dari kesalahan adalah makna yang hakiki yang dikehendaki oleh allah azza wa jalla dengan firmannya yang Artinya : Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat…”
Akan tetapi , faham pemuda yang jauh sekali dari pendidikan Islam sama sekali TIDAK MAKSUM.
Jadi masalahnya: IALAH PERBANDINGAN ANTARA DUA FAHAM, YAKNI FAHAM ATAU PEMIKIRAN DARI SEORANG PEMUDA YANG JAHIL (BODOH) DAN FAHAM ATAU PEMIKIRAN PARA IMAM MUJTAHIDIN = YANG KEDUA-DUANYA TIDAK MAKSUM .
HANYA SAJA PERBEDAAN NYA IALAH :
YANG SATU TERLALU BODOH.
YANG SATU LAGI TERSANGAT DALAM ILMUNYA “.
anti mzhab: Lalu dia berkata “ Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membebani dia melebihi kemampuannya”.
mazhab: Selanjutnya kami mengatakan kepadanya “ Tolonglah , jawablah pertanyaan ini ‘ Seorang mempunyai anak kecil yang sedang sakit panas. Menurut saran semua dokter yang ada di
anti mazhab : Pemuda itu diam sejenak, lalu berkata “ Saya kira masalah tersebut lain dengan masalah ini dan maksudnya pun berbeda dengan persoalan yang sedang kita bicarakan”.
mazhab: Kami memberikan keterangan “ Masalah ini sama hakikatnya dengan hal yang sedang kita bicarakan. Coba anda perhatikan ! . Orang tua tersebut sudah mendengarkan ijma’ (kesepakatan ) para dokter , sebagaimana pemuda tadi juga telah mendengar ijma’ para ulama. Akan tetapi , orang tua tersebut justru berpegang pada selebaran buku kesehatan , sebagaimana pemuda tersebut melaksankan panggilan hatinya”.
anti mazhab: Kemudian ia berkata “ Tuan , Al Quran adalah Nur . Nur Al Quran tidak dapat disamakan dengan yang lain”.
mazhab: Kami bertanya kepadanya “ Apakah pantulan Al quran itu dapat dipahami oleh yang membaca sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t.? kalau begitu apa bedanya antara ahli ilmu dan yang bukan ahli ilmu dalam menerima cahaya Al Quran?”.
anti mazhab : Pemuda itu menjawab “ Panggilan hati adalah yang paling pokok “.
mazhab: Lalu kami menyatakan “ Orang tua tersebut telah melaksanakan panggilan hatinya sehingga kematian anaknya . Apakah ada pertanggungjawaban bagi orang tua , baik dari segi syariat maupun tuntunan hukum?”.
anti mazhab: Dengan tegas , ia menjawab “DIA TIDAK DAPAT DITUNTUt APA-APA”.
mazhab: Kemudian kami menyatakan “ Dengan pernyataan anda seperti ini , saya kira dialog dan diskusi ini kita cukupkan sampai disini saja. Sudah putus jalan untuk menemukan pendapat kami dengan anda . Dengan jawaban Anda yang sangat mengherankan itu, cukuplah kiranya kalau anda telah keluar dari ijma’ kaum muslimin”.
Coba anda renungkan ! seorang muslim yang jahil (bodoh) hanya mengandalkan panggilan hatinya dalam memahami apa yang ia temukan dalam Al Quran Al karim . Lalu ia mengerjakan shalat menghadap kearah selain kiblat dan menyalahi semua umat Islam , tetapi shalatnya dianggap sah dan tidak apa-apa. Kemudian orang biasa dengan panggilan jiwanya , ia mengobati orang sakit sekehendaknya , sehingga menyebabkan kematian orang yang ia obati . Lalu atas perbuatannya itu, ia bebas dari segala tuntutan.
Kalau demikian halnya, MENGAPA MEREKA TIDAK MEMBIARKAN ORANG BODOH-BODOH MENGUNAKAN PANGGILAN JIWANYA UNTUK TAQLID DAN MENGIKUTI PARA IMAM MUJTAHID ,KERANA MEREKA LEBIH WASPADA DARIPADA MEREKA (YANG BODOH-BODOH ), TENTANG URUSAN KITAB ALLAH AZZA WAJALLA DAN SUNNAH RASULULLAH S.A.W ?”.
Pendapat ini mungkin salah menurut mereka , tetapi tercakup dalam pengertian MEMENUHI JIWA.
.Setelah kami ungkapkan dialog kami dengan pemuda ajaib (aneh ini) , kami ingin menghimbau kepada para pembaca agar sadar dan insaf serta membebaskan diri dari fanatik . apabila pembaca ingin mengetahui perkara yang hak dengan segala alasan serta dalil-dalilnya , apa yang telah kami tulis dan kami jelaskan sudah cukup mengungkapkan perihal yang samar-samar dan menghilangkan semua hal yang meragukan.
Akan tetapi , kalau anda mempertahankan pendapat lantaran fanatik dan fanatik itu sudah menjadi watak dan karakter anda , berapa banyak pun dalil dan alas an yang saya tambah , tetap tidak ada gunanya untuk anda.
Sesungguhnya problem anda bukanlah masalah kebodohan yang dapat dihilangkan dengan ilmu , tetapi masalah fanatik yang tidak mungkin dapat dilengkapkan , kecuali dengan cara melakukan koreksi pribadi yang tulus ikhlas dihadapan Allah Azza wajalla.
Terlepas dari golongan manakah anda berada , yang perlu kami ingatkan ialah kelompok masyarakat tempat anda melakukan dakwah, mengenai golongan yang sasaran dakwahnya tidak lagi ditujukan pada usha perbaikan iman dan menghindarkan kekufuran, tetapi satu-satunya usha mereka lakukan ialah menyalakan api persengketaan dikalangan umat Islam manakala api sudah padam.
Mereka seolah-olah melakukan kegiatan pembahasan ilmiah untuk mengungkapkan pokok-pokok pikiran, tetapi tujuan utamanya hanya ingin memperdalam jurang perselisihan dan mengupayakan terjadinya permusuhan dan perpecahan serta menjauhkan pola-pola berpikir yang sehat dalam segala persoalan . Inilah kenyataan yang dapat kita rasakan.
Lalu apa jalan keluar untuk menyelamatkan umat Islam dari kenyataan ini dan bagaiman cara menghindarkan diri dari sikap-sikap yang menunjjukan pertengkaran , permusuhan serta perpecahan?.
Satu-satunya jalan adalah kembali pada norma-norma ilmiah setiap hendak melakukan kegiatan pembahasan dan jauh dari sikap fanatik atau adanya maksud lain yang mencampuri kemurnian ilmu pengetahuan.
Dengan cara ini , perselisihan akan lenyap , sedikit-demi sedikit kemudian larut , serta tidak ada kemungkinan bagi para penyeludup dari luar untuk mengiring kedalam lembah perpecahan , hasad (dengki dan sakit hati.
Dalam risalah ini , telah kami kemukakan penjelasan yang diperlukan untuk mengetahui mana yang benar dalam permasalahan ini.
Telah kami ungkapkan bahawa penulis buku , yakni Syekh khajandi telah menukil keterangan yang tidak benar , bahkan bertentangan dengan kenyataan.
Pembaca pun telah ,mengetahui bahwa penjelasan para imam yang dinukil oleh syekh khajandi adalah bertolak belakang dengan apa yang dituduhkan oleh Syekh khajandi .
Kami yakin bahawa para pembaca telah mengikuti uraian (pemjelasan) kami dalam risalah ini dengan penuh perhatian dan pengharapan.
Demi Allah , orang yang iri dan tidak mempunyai keinsafan , mungkin menuduh kami melakukan pelanggaran dalam pembahasan sekadar iseng serta main-main dalam menukil suati keterangan atau kurang proporsional dalam menukil suatu keterangan dan mengemukakan dalil .
Oleh kerana itu , kami mengajak pembaca untuk menuntut kebenaran yang selama ini selalu dipeganag oleh JUMHUR KAUM MUSLIMIN, setiap masa. Tegaklah berdiri sebagai pembela dalam mempertahankan kebenaran dengan memerangi segala macam sikap yang berlebihan.
Peringatan manusia (umat Islam yang kita cintai ) untuk tidak fanatik kepada mazhab menurut cara-cara seperti yang telah kami jelaskan . Berikanlah keterangan yang kokoh kepada mereka bahawa dalil adalah pokok dari segala yang pokok dalam memahami setiap perkara kalau anda memang dapat memahaminya.
Jangan berdiri diatas kepala , untuk menempuh jalan yang berlebiha-lebihan kerana sesungguhnya semua itu merupakan pangkal segala musibah dan bencana.
Tiada daya dan kekuatan selain dengan Allah , Tuhan yang maha tinggi lagi Maha agung .
Sumber:Terjemahan Kitab Dr Said Ramadhan Al Bhuti bertajuk Al Lla mazhabiyyah Akhtarul Bid’atin Tuhaddidu Syari’atil Islam………………………………………………………………………………….
Minggu, 20 Juni 2010
Kalam Salaf

Cinta Pada Pandangan Pertama
مُشَاهَدَةُ المُؤْثِرِيْنَ لِلدُّنْياَ تَمْحُو حُبَّ الآخِرَةِ مِنَ القَلْبِ وَكَيْفَ باِلمُجَالَسَةِ وَالمُخَالَطَةِ
Menyaksikan orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia dapat menghapus cinta akherat dari hati. Maka bisa dibayangkan jika selalu duduk bersama mereka, berkumpul dan berteman dengan mereka.
(Imam Abdullah Al-Haddad)
Dalam surah Al-Hijr ayat 88 Allah berfirman:
لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿٨٨﴾
“Janganlah sekali-kali kamu mengarahkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Hijr: 88).
Ayat di atas memberi penjelasan tentang larangan memandang kenikmatan hidup orang-orang kafir. Sebuah pandangan mempunyai pengaruh besar kepada jiwa. Memandang hal-hal positif tentunya berpengaruh positif pada hati, sikap, dan ucapan. Selain itu, pandangan menimbulkan rasa cinta. Dan cinta yang dimaksud adalah cinta akherat yang berarti cinta ibadah, cinta shalat berjama’ah, cinta baca Al Qur’an, cinta dzikir, cinta mempelajari ilmu agama.
Jika yang kita lihat adalah kaum sholeh, orang-orang yang ahli ibadah, hati kita tergerak untuk menirunya. Lambat laun hati kita tertarik beribadah bersama mereka. Tapi ketika kita menyaksikan orang-orang yang tidak baik, orang-orang yang lebih mementingkan urusan dunia, kita sudah terkena racun cinta dunia, kepedulian kepada akherat menjadi pupus sudah.
Mudahnya, jika kita senang menonton, senang melihat orang yang cinta dunia sebentar lagi kita akan cinta dunia. Jika yang dibaca adalah kabar para politikus, sebentar lagi kita senang politik. Namun jika yang kita dengarkan adalah orang yang membaca kitab, orang yang memberi nasehat, menceritakan sejarah Rasulullah, tidak lama kita akan mengikuti jejak Nabi SAW.
Bisa jadi pandangan kita yang terbatas tersebut membuat kita serasa terbuai oleh gemerlap dan gemerincing harta orang-orang kafir. Mungkin mereka menikmati semua itu. Sayang, kenikmatan tersebut ada batas pemakaiannya dan Allah jadikan semua itu sebagai tipuan dan fatamorgana belaka.
“Segala sesuatu itu awalnya pasti dari pandangan mata. Sama seperti api yang berkobar besar, pada awalnya dari api yang kecil,” bunyi sebuah pepatah.
Bayangkan puntung rokok yang ada di tengah hutan. Ia akhirnya berubah jadi kebakaran hebat membakar ratusan sampai ribuan hektar. Hanya sepuntung rokok. Begitu juga perbuatan dosa yang besar, seperti zina. Awalnya saling tatap, berkenalan, dan terjadilah hubungan di luar nikah.
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ ﴿٢٢﴾
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (Qs. An-Najm: 22).
Cobalah kita pandang wajah orang-orang saleh yang teduh, para ahli ibadah, orang yang zuhud. Cerita-cerita yang kita dengar adalah cerita orang yang saleh, orang yang zuhud, orang-orang yang dekat kepada Allah, kita akan terangsang untuk bisa mengikuti jejak mereka. Imam Ats-Tsauri berkata :
النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ الأَحْمَقِ خَطِيْئَةٌ مَكْتُوْبَةٌ
“Melihat orang yang bodoh (orang yang melanggar ajaran Allah) merupakan sebuah kesalahan yang tercatat.”
Dalam melakukan penilaian baik tidaknya seseorang janganlah dinilai dari pribadinya secara langsung. Tanyalah kepada temannya. Dengan begitu kita bisa mempunyai gambaran dan informasi yang memadai tentang latar belakang seseorang. Dari situlah, kita memutuskan jadi tidaknya menjalin persahabatan.
Tentu, mukmin yang baik menjauhkan diri dari pergaulan bebas yang berpotensi merusak masa depan seperti seks bebas, narkoba, miras dan tindakan kriminal. Sama halnya jika ada orang yang terkena penyakit kudis. Orang yang sehat kumpul dengan orang yang berpenyakit kudis, maka yang sehat akan tertular penyakit, bukan sebaliknya. Begitu teman yang tidak baik, jika kita kumpul dengan mereka, sebentar lagi kita akan terpengaruh.
Kerusakan pemuda pada jaman sekarang lebih pada karena pergaulan yang tidak benar. Kerusakan yang terjadi meliputi perubahan akidah, agama, akhlaq, dan pola pikir. Habib Ali bin Muhammad bin Al-Habsyi menyatakan :
وَإِياَّكموا من صُحْبَةَ الضّدِّ إِنَّنِي # رأيت فساد المرء صُحْبَةَ أَضْدَادِ
“Hati-hati kamu dengan teman-teman yang sejalan denganmu, karena aku melihat kerusakan pemuda yang ada di zaman sekarang ini karena teman yang tidak benar.” Ali Akbar